Kearifan Lokal Klasik : Kisah Cinta Datu Museng Dan Putri Lombok Maipa Deapati

Bukan hanya cerita Sawerigading yang di abadikan sebagai cerita percintaan sejati di tanah Sulawesi. Ada juga Cerita Percintaan Klasik yang tidak kalah serung yang dimana cerita ini mengangkat Kisah Datu Museng dan Maipa Deapati. Percintaan Anak Raja Gowa yang melarikan di dari Makassar ke Sumbawa dikarenakan taktik adu domba belanda dan jatuh cinta kepada Maipa [...]

Kearifan Lokal Dalam Sastra Bugis Klasik Part 6

Sambungan Dari Artikel
Kearifan Lokal Dalam Sastra Bugis Klasik Part 1
Kearifan Lokal Dalam Sastra Bugis Klasik Part 2
Kearifan Lokal Dalam Sastra Bugis Klasik Part 3
Kearifan Lokal Dalam Sastra Bugis Klasik Part 4
Kearifan Lokal Dalam Sastra Bugis Klasik Part 5
Pada Edisi Final ini akan dibahas
Kepatutan (Mappasitinaja)
Mappasitinaja berasal dari kata sitinaja yang berarti pantas, wajar atau [...]

Kearifan Lokal Dalam Sastra Bugis Klasik Part 5

Sambungan Dari Artikel
Kearifan Lokal Dalam Sastra Bugis Klasik Part 1
Kearifan Lokal Dalam Sastra Bugis Klasik Part 2
Kearifan Lokal Dalam Sastra Bugis Klasik Part 3
Kearifan Lokal Dalam Sastra Bugis Klasik Part 4
Motivasi berprestasi (Reso)
Dalam hal motivasi berprestasi, terungkap dalam ungkapan Bugis dengan istilah reso (usaha keras). Untuk mencapai prestasi reso merupakan syarat utama. Hal ini [...]

Kearifan Lokal Dalam Sastra Bugis Klasik Part 4

Sambungan Dari Artikel
Kearifan Lokal Dalam Sastra Bugis Klasik Part 1
Kearifan Lokal Dalam Sastra Bugis Klasik Part 2
Kearifan Lokal Dalam Sastra Bugis Klasik Part 3
Penegakan Hukum
Bagi manusia Bugis, menegakkan hukum terhadap suatu pelanggaran merupakan kewajiban. Dalam konsep Siri’ (malu, harga diri) terungkap bahwa manusia Bugis yang berbuat semaunya dan tidak lagi mempedulikan aturan-aturan adat (etika panngadereng [...]

Kearifan Lokal Dalam Sastra Bugis Klasik Part 3

Sambungan Dari
Kearifan Lokal Dalam Sastra Bugis Klasik Part 1
Kearifan Lokal Dalam Sastra Bugis Klasik Part 2
Demokrasi (Amaradekangeng)
Kata amaradekangeng berasal dari kata maradeka yang berarti merdeka atau bebas. Pengertian tentang kemerdekaan ditegaskan dalam Lontarak sebagai berikut.
Niaa riasennge maradeka, tellumi pannessai:
Seuani, tenrilawai ri olona.
Maduanna, tenriangkai’ riada-adanna.
Matellunna, tenri atteanngi lao ma-niang, lao manorang, lao orai, lao alau, [...]

Kearifan Lokal Dalam Sastra Bugis Klasik Part 2

Sambungan Dari Kearifan Lokal Dalam Sastra Bugis Klasik Part 1
Konsep Pemerintahan yang Baik (good governance)
Istilah good governance tak bisa dilepaskan dari konteks perbincangan mengenai politik dan paradigma pembangunan yang berkembang di dunia. Bila dilacak agak teliti, penggunaan istilah ini belum lebih dari dua dekade. Diduga, good governance pertama kali diperkenalkan sekitar tahun 1991 dalam sebuah [...]

Kearifan Lokal Dalam Sastra Bugis Klasik Part 1

Bawaan Hati yang Baik (Ati Mapaccing)
Dalam bahasa Bugis, ati mapaccing (bawaan hati yang baik) berarti nia’ madeceng (niat baik), nawa-nawa madeceng (niat atau pikiran yang baik) sebagai lawan dari kata nia’ maja’ (niat jahat), nawa-nawa masala (niat atau pikiran bengkok). Dalam berbagai konteks, kata bawaan hati, niat atau itikad baik juga berarti ikhlas, baik hati, [...]

Peran Perempuan Dalam Budaya Bugis

Media rekayasa sosial ala tradisi dan kearifan lokal harus mulai ditengok, dijenguk, dan dipiliah-pilah dalam menghadirkan pandangan emansipatif yang terbingkai dengan nilai-nilai lokal. Dalam batasan ini, budaya Bugis memberikan ruang penafsiran kedudukan perempuan dalam kontruksi sosial
Sejarah wacana keadilan gender telah bergema sejak mulai terbukanya kran demokrasi post-Orba. Ironisnya, wacana tersebut kelihatannya hanya berjalan di tempat. [...]